Sejarah

  • 17 November 2017

Pada akhir abad ke-12 kepatihan Aria Banjar Getas runtuh, Raja Selaparang membangun suatu tempat musyawarah/bersaba-saba yang bernama Wanaseba, Wana artinya Hutan Seba yang berarti Musyawarah jadi Wanaseba dengan kebiasaan lidah berubah sebutan menjadi Wanasaba.

Kemudian pada akhir abad 13 Kerajaan Selaparang runtuh akibat serangan secara mendadak oleh pasukan Raja Karang Asem Bali. dengan runtuhnya kerajaan selaparang memaksa keluarga kerajaan mengungsi dan berpindah ke berbagai Desa antara lain ada yang ke-Wanasaba dan ada yang ke-Masbagik dan lain-lain kemudian membentuk Raja-Raja kecil yang disebut Datu. (baca selengkapnya).

Pada awal abad ke 14 Putra-Putra dari Raden Wiradipati Tanjung salah satunya adalah Raden Prinuk hijrah dari selaparang ke pesanggerahan Wanasaba yang sudah barang tentu diikuti oleh kaula beliu yang setia. Kemudian pada tahun 1472 Putra dari Raden Prinuk bernama Raden Wira Sejanggi membentuk suatu pemerintahan pada waktu itu disebut dengan Datu dan dia menjadi Datu pertama dengan gelar Raden Wiradipayas pertama, memerintah dari tahun 1472-1530 M (58 Th).

Setelah dia wafat pada tahun 1530, maka dia diganti oleh putranya yang bernama Raden Wiradipati Tuban sebagai datu yang ke dua memerintah selama 61 tahun sejak tahun 1531-1592 secara turun temurun. Pemerintahan pada masa itu terus berlangsung, setelah dia wafat diganti oleh Raden Wirasinggih selama 80 tahun sejak tahun 1593-1673 sebagai datu yang ke tiga. kemudian setelah itu dia diganti oleh Raden Wiradipayas Dua memerintah selama 82 Tahun sejak tahun 1674-1756 sebagai Datu yang ke empat.

Setalah wafatnya dia maka diganti oleh Raden Wiradipati yang masa pemerintahannya selama 66 tahun sejak tahun 1757-1823, dia merupakan datu yang ke-lima. Seetelah dia Wafat pada tahun 1823 kemudian diganti oleh Raden Nuna Wira Candra Satu merupakan datu yang ke-enam atau yang terahir memerintah selama 50 Tahun dari tahun 1824-1874 dan setelah wafatnya Datu tuan yang ke enam ini, kedatuan berubah menjadi Desa.

Kecamatan Wanasaba berada pada 116,5672° Bujur Timur dan 8,5672° Lintang Selatan dan berada pada ketinggian 111-453 meter dari permukaan air laut. Wilayah Kecamatan Wanasaba berbatasan dengan kecamatan Sembalun di sebelah utara, kecamatan Aikmel dan Labuhan Haji di sebelah selatan, kecamatan Aikmel di sebelah barat dan sebelah timur berbatasan dengan kecamatan Pringgabaya dan Suela.

Luas Wilayah Kecamatan Wanasaba sekitar 55,89 Km2 yang terdiri dari Lahan Sawah seluas 22,08 km2, untuk Bangunan dan Pekarangan 6,13 km2, Tegal/Kebun 27,66 km2, dan lahan Lainnya 0.02 km2, dimana lahan perkebunan/ tegal yang terluas ada di desa Bebidas dan desa Beriri Jarak. Kecamatan Wanasaba terdiri dari 14 Desa. Luas setiap desa yang ada bervariasi, dengan desa terluas Desa Bebidas seluas 12,41 km2 atau sebesar 22,20 persen dari total luas Kecamatan Wanasaba. Adapun desa dengan luas terkecil adalah Desa Mamben Baru yaitu 0,31 km2 atau sebesar 0,55 persen dari total luas Kecamatan Wanasaba.

Kecamatan Wanasaba memiliki 14 Desa, 87 Dusun dan 486 Rukun Tetangga (RT). Desa yang memiliki dusun paling banyak adalah Desa Bebidas yakni sebanyak 12 Dusun. Sedangkan desa yang memiliki dusun paling sedidikit adalah Desa Mamben Baru, Otak Rarangan dan Karang Baru Timur, ketiga desa tersebut masing-masing hanya memiliki 3 dusun. Pada tahun 2016 jumlah aparat desa di Kecamatan Wanasaba 107 orang, Kepala Desa 14 orang, anggota BPD 107 orang.

Jarak dari pusat pemerintahan Kecamatan dengan seluruh desa di Kecamatan Wanasaba relative tidak begitu jauh. Desa yang paling jauh dari pusat pemerintahan adalah desa Mamben Baru yang berjarak sekitar 7,5 km, sedangkan desa terdekat dari pusat pemerintahan yaitu desa Wanasaba.

  • 17 November 2017